|
Dua hari yang lalu, tepatnya, Kamis (11/6) siang, saya mendapatkan kesempatan untuk hadir dalam seminar nasional dalam rangka Tanwir II 'Aisyiyah di Asri Medical Center (AMC) Jl HOS Cokroaminoto 17 Yogyakarta. Dalam seminar yang digelar dalam 2 sesi itu, saya hanya berkesempatan untuk datang di sesi yang kedua dengan topik utama Dinamika Gerakan Perempuan Indonesia. Pematerinya antara lain aktivis HAM dari PUSHAM UII yang kebetulan sebagai pengurus PP 'Aisyiyah (maaf lupa namanya), Prof. Dr. Bambang Purwanto (Jurusan Ilmu Sejarah UGM) dan Dr. Abdul Munir Mulkan, budayawan dan kandidat guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kebetulan, Dr. Munir Mulkan berhalangan sehingga makalahnya dibacakan oleh seseorang.
Yang menarik dari semuanya itu adalah makalah Dr. Munir Mulkan yang menuliskan tentang beberapa tipe orang Muhammadiyah. Ada empat poin yang diutarakan, antara lain: 1. Tipe Ikhlas (Puritan Konservatrif) Orang Muhammadiyah yang menjalankan segala sesuatunya sangat tekstual. Kalau tertulis begini ya dilakukan begini. Tidak bisa tidak. Kolot. Kurang mengkomparasikan dengan hal-hal kontekstual yang lebih luas.
2. Tipe Kyai Dahlan (Puritan Kultural) Orang Muhammadiyah yang konsisten dengan ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan Muhammadiyah, selain itu, dia juga bisa menerapkan maupun mendakwahkan yang dia dapat dari ajaran itu dengan pendekatan kultural ke masyarakat. Bisa dengan berbagai macam pendekatan yang tidak monoton. Ini yang ideal, layaknya Kyai Dahlan dulu.
3. Tipe Munu (Muhammadiyah-NU) Nah, yang ini, orang Muhammadiyah yang berfikir modern akan tetapi peribadatannya dan pengamalan agamanya masih seperti NU (maaf, yang bercampur dengan kejawen dan unsur-unsur tradisionalitas lainnya).
4. Tipe Marmud (Muhammadiyah-Abangan) Hm.. ini dia yang paling mengerikan, orang yang mengaku-ngaku Muhammadiyah juga berfikir modern akan tetapi peribadatannya masih kayak abangan. Kadang shalat kadang gak, kadang puasa kadang gak, dll. Naudzubillah..
Termasuk manakah Anda?  | Semoga bisa tipe pertama, Amien!! |
 | "menjalankan segala sesuatunya secara tekstual ?" artinya sama ndak dg "Sami.na wa Ato.na ? " Kalau sama, ana mau yg no 1 deh |
 | klo menurut teman2 saya termasuk yang mana ya??
o.y. gif,.. kayaknya ada tipe lain : Muhtis (Muhammadiyah Opportunis), yang memanfaat kan muhammadiyah sbg "numpang" singgah... yang entah setelah momen kepentingannya selesai, akan terbang jauh... |
 | @Irfa' Itu kata Haqqi di FB namanya Muhammadiyah-KS alias Muhammadiyah Kurang Sopan.. Wakakaka
@Qolbi Hm.. Iya, harus suruh lihat sampai berulang-ulang sampai lecet-lecet tuh VCDnya.. hehe |
 | kayaknya ada satu lagi... Tipe Mati (Muhammadiyah Partai) Kadang ke sini kadang ke situ. Saat penting malah ke situ. Kajian rutin Muhammadiyah malah pake JP alias Jaket Partai. |
|
|